Siapa yang tidak gembira akan hadirnya ramadhan? Bulan istimewa yang dikaruniakan Sang Pencipta alam semesta. Istimewa dengan limpahan berkah, pintu taubat yang dibuka selebar-lebarnya, pun bulan untuk menambah pundi-pundi tabungan amal sebagai bekal saat tiba waktunya pulang nanti.
Ya…serupa akan berjumpa dengan kekasih, segala persiapan pun dilakukan agar tampil prima. Sejumlah target juga telah ditetapkan. Membuat rencana sedemikian rupa untuk khatam Al qur’an, shalat jama’ah di masjid, pun meluangkan waktu untuk datang pada kajian-kajian keagamaan. Tidak hanya itu, ada juga yang menyiapkan penampilan baru untuk menghormati bulan suci ramadhan ini.
Hal yang paling mudah kita ketahui bahwa betapa orang-orang begitu menghormati bulan ini adalah tayangan-tayangan di televisi. Para pesohor negeri mendadak berbalut busana rapi. Aurat tak lagi sembarang diumbar, meski belum tertutup sempurna benar. Pun sinetron-sinetron juga mendadak menjadi islami, meski hanya sebatas menyematkan judul “Edisi Ramadhan”.
Fenomena ini tentu bisa jadi hal yang menyejukkan. Ketika banyak orang yang tidak lagi segan berlomba-lomba dalam kebaikan. Namun, tidak jarang pula ada yang memandang sebagai sebuah euforia sesaat saja. Dan akan memudar seiring berlalunya ramadhan.
Ya… ketika masjid ramai setiap hari di bulan ramadhan, bukan hanya saat Jum’at datang. Ketika lantunan Al qur’an terdengar setiap waktu, tanpa menunggu malam Jum’at menjelang. Pun ketika banyak muncul para dermawan baru yang tak segan mengulurkan tangan. Lalu muncul sebuah istilah yang sepertinya sering sekali kita dengar, “Jangan hanya menjadi insan ramadhani, tapi jadilah insan rabbani.” Insan ramadhani adalah istilah yang menggambarkan perubahan yang terjadi pada diri seseorang hanya selama bulan ramadhan.
Pesan tersebut tidak salah memang. Sebuah pengingat agar setelah ramadhan tetap menjadi manusia yang tetap berada pada jalur yang diridho’i Allah. Namun, akan menjadi sebuah sindiran yang mengerikan bagi orang-orang yang memang lebih giat melakukan ibadah hanya ketika ramadhan.
Sebaiknya kita tidak berhak menyalahkan atau memandang rendah orang-orang yang berusaha untuk berubah. Terlepas dari apakah nanti selepas ramadhan, ibadahnya kembali mengendur atau pun pakaian yang dikenakan tak lagi longgar. Orang-orang seperti inilah yang patut kita apresiasi.
Ya…kita patut mengapresiasi usahanya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah saat ramadhan. Bukankah hidayah itu tidak datang pada orang-orang yang hanya berpangku tangan? Boleh jadi, para insan ramadhani ini tengah berupaya menjemput hidayah Ilahi. Siapa tahu saat ramadhan terbiasa membaca Al qur’an…setelah ramadhan semakin dekat dan selalu ingin berlama-lama membaca Al qur’an. Siapa tahu saat ramadhan langkah kaki ringan untuk sholat berjama’ah di masjid, dan ketika ramadhan berlalu pun tetap istiqomah melangkah mantap untuk berjama’ah di masjid. Pun siapa tahu saat ramadhan malu mengenakan pakaian minim bahan, dan nanti ketika ramadhan berlalu rasa malu itu bertahan hingga pakaiannya pun menutup aurat sesuai dengan yang telah diajarkan.
Menjadi insan ramadhani bukan sesuatu yang berlebihan. Dan tentu saja bukan suatu hal patut diperdebatkan. Langitkan saja pinta kepada Sang Pemilik Alam, berharap menjadi insan ramadhani sebagai titik awal untuk menjadi insan yang senantiasa bertakwa kepada Allah tanpa peduli bulan. Bukankah hanya Allah yang berhak memberikan hidayah.
Sumber : http://www.kabarmuslimah.net/index.php/2016/05/30/salahkah-apabila-menjadi-insan-ramadhani/
Ya…serupa akan berjumpa dengan kekasih, segala persiapan pun dilakukan agar tampil prima. Sejumlah target juga telah ditetapkan. Membuat rencana sedemikian rupa untuk khatam Al qur’an, shalat jama’ah di masjid, pun meluangkan waktu untuk datang pada kajian-kajian keagamaan. Tidak hanya itu, ada juga yang menyiapkan penampilan baru untuk menghormati bulan suci ramadhan ini.
Hal yang paling mudah kita ketahui bahwa betapa orang-orang begitu menghormati bulan ini adalah tayangan-tayangan di televisi. Para pesohor negeri mendadak berbalut busana rapi. Aurat tak lagi sembarang diumbar, meski belum tertutup sempurna benar. Pun sinetron-sinetron juga mendadak menjadi islami, meski hanya sebatas menyematkan judul “Edisi Ramadhan”.
Fenomena ini tentu bisa jadi hal yang menyejukkan. Ketika banyak orang yang tidak lagi segan berlomba-lomba dalam kebaikan. Namun, tidak jarang pula ada yang memandang sebagai sebuah euforia sesaat saja. Dan akan memudar seiring berlalunya ramadhan.
Ya… ketika masjid ramai setiap hari di bulan ramadhan, bukan hanya saat Jum’at datang. Ketika lantunan Al qur’an terdengar setiap waktu, tanpa menunggu malam Jum’at menjelang. Pun ketika banyak muncul para dermawan baru yang tak segan mengulurkan tangan. Lalu muncul sebuah istilah yang sepertinya sering sekali kita dengar, “Jangan hanya menjadi insan ramadhani, tapi jadilah insan rabbani.” Insan ramadhani adalah istilah yang menggambarkan perubahan yang terjadi pada diri seseorang hanya selama bulan ramadhan.
Pesan tersebut tidak salah memang. Sebuah pengingat agar setelah ramadhan tetap menjadi manusia yang tetap berada pada jalur yang diridho’i Allah. Namun, akan menjadi sebuah sindiran yang mengerikan bagi orang-orang yang memang lebih giat melakukan ibadah hanya ketika ramadhan.
Sebaiknya kita tidak berhak menyalahkan atau memandang rendah orang-orang yang berusaha untuk berubah. Terlepas dari apakah nanti selepas ramadhan, ibadahnya kembali mengendur atau pun pakaian yang dikenakan tak lagi longgar. Orang-orang seperti inilah yang patut kita apresiasi.
Ya…kita patut mengapresiasi usahanya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah saat ramadhan. Bukankah hidayah itu tidak datang pada orang-orang yang hanya berpangku tangan? Boleh jadi, para insan ramadhani ini tengah berupaya menjemput hidayah Ilahi. Siapa tahu saat ramadhan terbiasa membaca Al qur’an…setelah ramadhan semakin dekat dan selalu ingin berlama-lama membaca Al qur’an. Siapa tahu saat ramadhan langkah kaki ringan untuk sholat berjama’ah di masjid, dan ketika ramadhan berlalu pun tetap istiqomah melangkah mantap untuk berjama’ah di masjid. Pun siapa tahu saat ramadhan malu mengenakan pakaian minim bahan, dan nanti ketika ramadhan berlalu rasa malu itu bertahan hingga pakaiannya pun menutup aurat sesuai dengan yang telah diajarkan.
Menjadi insan ramadhani bukan sesuatu yang berlebihan. Dan tentu saja bukan suatu hal patut diperdebatkan. Langitkan saja pinta kepada Sang Pemilik Alam, berharap menjadi insan ramadhani sebagai titik awal untuk menjadi insan yang senantiasa bertakwa kepada Allah tanpa peduli bulan. Bukankah hanya Allah yang berhak memberikan hidayah.
Sumber : http://www.kabarmuslimah.net/index.php/2016/05/30/salahkah-apabila-menjadi-insan-ramadhani/

